Monday, May 27, 2013

Osteoartritis

BAB I
Pendahuluan

 I.            Latar Belakang (besaran kasus penyakit di Indonesia, faktor-faktor yang menyebabkan penyakit tersebut)

Osteoartritis yang oleh masyarakat umum lebih dikenal sebagai pengapuran sendi adalah suatu gangguan kesehatan yang banyak menimbulkan penderitaan bagi mereka yang berusia diatas 50 tahun terutama wanita. Walaupun penyakit reumatik terdapat 150 jenis, namun ternyata berdasarkan penelitian yang kami lakukan di RS Dr. Hasan Sadikin sebagian besar (70%) adalah Osteoartritis.

Nyeri dan kaku merupakan keluhan yang sering diungkapkan penderitanya tatkala mengunjungi dokter. Sendi yang paling sering terkena adalah lutut, panggul dan tangan. Ibu-ibu jadi sulit mengerjakan aktifitas hariannya seperti memasak, solat, mengikuti pengajian, belanja di mall ke arisan dll.

Seringkali penderitanya merasa bosan dengan pengobatan yang diberikan dokter. Nyerinya tak kunjung hilang dengan tuntas. Biasanya penderita melakukan doctor shopping bagi yang mampu. Sedangkan yang kurang mampu mulai mencari cara pengobatan yang katanya alternatif. Namun pada kenyaannya alih-alih penyakitnya sembuh timbullah berbagai bencana akibat mencoba sendiri berbagai kapsul, serbuk dan cairan yang dipromosikan sebagai jamu atau herbal, namun nyatanya mengandung berbagai obat keras dosis tinggi terutama steroid.

Penderita yang mengkonsumsi jamu palsu tersebut biasanya memang merasa tertolong nyerinya karena khasiatnya cespleng. Namun babak kehidupan baru dimulai. Mukanya jadi bulat bak bulan purnama, tumbuh punuk di belakang leher, perut gembrot, berat badan bertambah. Banyak pula yang mengalami muntah darah bahkan sampai gagal ginjal.

Berangkat dari kenyataan ini, kiranya perlu ada suatu buku panduan untuk masyarakat umum mengenai apa dan bagaimana penyakit pengapuran sendi itu, sehingga tidak terjebak pada mencoba-coba megobati sendiri dengan berbagai bahan yang mungkin berbahaya.

II.            Identifikasi masalah (fokuskan kepada faktor dietary yang dapat menyebabkan penyakit tersebut)

Keluhan utama penderita OA kepada dokter ialah nyeri dan gangguan fungsi sendi. Akan tetapi tak selalu ada hubungan yang erat antara beratnya nyeri, gangguan fungsi dan beratnya kerusakan struktural OA seperti yang terlihat pada radiografi. Beratnya rasa nyeri dan gangguan fungsi yang saling berkaitan sangat bervariasi dari satu penderita ke penderita lain. Tergantung pada banyak faktor seperti kepribadian, suasana batin, pekerjaan, pendidikan, kegiatan rekreasi, adanya keluhan dan gangguan fungsi karena penyakit lain.
Osteoartritis adalah suatu “penyakit yang berlangsung seumur hidup” namun tidak progresif.Osteoartritis merupakan proses yang kompleks dan heterogen yang dapat dicetus oleh perubahan konstitusional dan lingkungan. Hal ini yang menyebabkan manifestan klinik OA sangat bervariasi dalam hal: onset, pola sendi yang terkena dan beratnya penyakit. Berdasarkan masalah yang ditimbulkannya:
·         Tidak mengganggu mobilitas
·         Hanya satu atau beberapa sendi yang bermasalah
·         Kelainan dan fungsi sendi semakin buruk
·         Ada kaitan dengan usia
·         Tidak sewlalu ada kaitan antara perubahan struktur dan gangguan fungsi
·         Gejala yang timbul tidak berkaitan dengan peradangan.

Walaupun beberapa sendi terkena (poli – artikuler), biasanya hanya satu sendi menimbulkan masalah
Keluhan-keluhan dan kelaian yang mungkin didapatkan adalah sebagai berikut :


a)      Nyeri Sendi

Keluhan nyeri merupakan keluhan utama yang sering-kali membawa penderita ke dokter, walaupun mungkin sebelumnya sendi sudah kaku dan berubah bentuknya. Biasanya nyeri sendi bertambah oleh gerakan dan sedikit berkurang bila istirahat. Pada gerakan tertentu (misal lutut digerakkan ke tengah) menimbulkan rasa. Nyeri pada OA dapat menjalar kebagian lain, misal OA pinggang menimbulkan nyeri betis yang disebut sebagai “claudicatio intermitten” Korelasi antara nyeri dan tingkat perubahan struktur pada OA sering ditemukan pada panggul, lutut dan jelek pada tangan dan sendi apofise spinalis.

b)     Kekakuan

Pada beberapa penderita, kaku sendi dapat timbul setelah duduk lama dikursi, dimobil, bahkan setelah bangun tidur. Kebanyakan penderita mengeluh kaku setelah berdiam pada posisi tertentu. Kaku biasanya kurang dari 30 menit.

c)      Hambatan Gerakan Sendi

Kelainan ini biasanya ditemukan pada OA sedang sampai berat. Hambatan gerak ini disebabkan oleh nyeri, inflamasi, sendi membengkok, perubahan bentuk. Hambatan gerak sendi biasanya dirasakan pada saat berdiri dari kursi bangun dari tempat berbaring, menulis atau berjalan. Semua gangguan aktivitas tergantung pada lokasi dan beratnya kelainan sendi yang terkena.

d)     Bunyi gemeretak

Sendinya terdengar berbunyi saat bergerak. Suaranya lebih kasar dibandingkan dengan pada artritis reumatoid dimana gemeretaknya lebih halus. Gemeretak yang jelas terdengar dan kasar merupakan tanda yang signifikan.

e)      Pembengkakan Sendi

Sendi membengkak / membesar bisa disebabkan oleh radang sendi dan bertambahnya cairan sendi atau keduanya Jarang disertai panas dan merah kemewrahan.

f)       Perubahan cara berjalan

Kelainan cara berjalan terutama dijumpai pada OA sendi lutut, paha dan tulang belakang.

Gejala Osteoartritis yang berat:
·         Nyeri yang menetap pada sendi yang terkena
·         Kekakuan pada sendi setelah bangun tidur atau setelah duduk beberapa lama
·         Bengkak atau nyeri pada perabaan pada satu atau lebih sendi yang terkena.
·         Krepitus atau suara berderak yang terjadi bila sendi digerakkan
·         Panas, kemerahan atau nyeri saat perabaan? Mungkin bukan OA. Segera ke dokter untuk menentukan penyebabnya, seperti arthritis rheumatoid.
·         Nyeri tidak selalu ada Hanya sepertiga penderita dengan gambaran Rosen OA mengeluh nyeri atau keluhan lainnya.




BAB II
Hasil & Pembahasan

 I.            Gambaran umum penyakit (patofisiologi penyakit)

Osteoartritis (OA) merupakan penyakit reumatik yang paling banyak dijumpai di seluruh dunia. Hampir seluruh sendi dapat terkena, namun lebih sering mengenai sendi-sendi lutut, panggul, tulang belakang dan jari-jari tangan. OA memang terkait dengan proses penuaan, namun banyak faktor lain yang mempengaruhinya seperti obesitas dan cedera ringan berulang pada sendi tertentu. WHO memperkirakan 10% penduduk berusia lebih 65 tahun menderita OA yang bergejala, dan sekitar 50% yang telah terkena OA namun belum mengeluh sakit. Penyakit ini dapat megenai pria dan wanita. Sebelum usia 45 pria lebih banyak terkena sedangkan setelah usia tersebut lebih banyak mengenai wanita.
Berdasarkan penyebabnya, OA dibedakan menjadi dua yaitu OA primer dan OA sekunder. OA primer, atau dapat disebut OA idiopatik, tidak memiliki penyebab yang pasti ( tidak diketahui ) dan tidak disebabkan oleh penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. OA sekunder, berbeda dengan OA primer, merupakan OA yang disebabkan oleh inflamasi, kelainan sistem endokrin, metabolik, pertumbuhan, faktor keturunan (herediter), dan immobilisasi yang terlalu lama. Kasus OA primer lebih sering dijumpai pada praktik sehari-hari dibandingkan dengan OA sekunder ( Soeroso, 2006 ).

Selama ini OA sering dipandang sebagai akibat dari proses penuaan dan tidak dapat dihindari. Namun telah diketahui bahwa OA merupakan gangguan keseimbangan dari metabolisme kartilago dengan kerusakan struktur yang penyebabnya masih belum jelas diketahui ( Soeroso, 2006 ). Kerusakan tersebut diawali oleh kegagalan mekanisme perlindungan sendi serta diikuti oleh beberapa mekanisme lain sehingga pada akhirnya menimbulkan cedera ( Felson, 2008 ). Kapsula dan ligamen sendi, otot-otot, saraf sensori aferen dan tulang di dasarnya . Kapsula dan ligamen-ligamen sendi memberikan batasan pada rentang gerak (Range of motion) sendi (Felson, 2008).

Cairan sendi (sinovial) mengurangi gesekan antar kartilago pada permukaan sendi sehingga mencegah terjadinya keletihan kartilago akibat gesekan. Protein yang disebut dengan lubricin merupakan protein pada cairan sendi yang berfungsi sebagai pelumas. Protein ini akan berhenti disekresikan apabila terjadi cedera dan peradangan pada sendi (Felson, 2008).

Ligamen, bersama dengan kulit dan tendon, mengandung suatu mekanoreseptor yang tersebar di sepanjang rentang gerak sendi. Umpan balik yang dikirimkannya memungkinkan otot dan tendon mampu untuk memberikan tegangan yang cukup pada titik-titik tertentu ketika sendi bergerak (Felson, 2008).

Otot-otot dan tendon yang menghubungkan sendi adalah inti dari pelindung sendi. Kontraksi otot yang terjadi ketika pergerakan sendi memberikan tenaga dan akselerasi yang cukup pada anggota gerak untuk menyelesaikan tugasnya. Kontraksi otot tersebut turut meringankan stres yang terjadi pada sendi dengan cara melakukan deselerasi sebelum terjadi tumbukan (impact). Tumbukan yang diterima akan didistribusikan ke seluruh permukaan sendi sehingga meringankan dampak yang diterima. Tulang di balik kartilago memiliki fungsi untuk menyerap goncangan yang diterima (Felson, 2008).

Kartilago berfungsi sebagai pelindung sendi. Kartilago dilumasi oleh cairan sendi sehingga mampu menghilangkan gesekan antar tulang yang terjadi ketika bergerak. Kekakuan kartilago yang dapat dimampatkan berfungsi sebagai penyerap tumbukan yang diterima sendi. Perubahan pada sendi sebelum timbulnya OA dapat terlihat pada kartilago sehingga penting untuk mengetahui lebih lanjut tentang kartilago (Felson, 2008).

Terdapat dua jenis makromolekul utama pada kartilago, yaitu Kolagen tipe dua dan Aggrekan. Kolagen tipe dua terjalin dengan ketat, membatasi molekul – molekul aggrekan di antara jalinan-jalinan kolagen. Aggrekan adalah molekul proteoglikan yang berikatan dengan asam hialuronat dan memberikan kepadatan pada kartilago (Felson, 2008).
Kondrosit, sel yang terdapat di jaringan avaskular, mensintesis seluruha elemen yang terdapat pada matriks kartilago. Kondrosit menghasilkan enzim pemecah matriks, sitokin { Interleukin-1 (IL-1), Tumor Necrosis Factor (TNF)}, dan faktor pertumbuhan. Umpan balik yang diberikan enzim tersebut akan merangsang kondrosit untuk melakukan sintesis dan membentuk molekul-molekul matriks yang baru. Pembentukan dan pemecahan ini dijaga keseimbangannya oleh sitokin faktor pertumbuhan, dan faktor lingkungan (Felson, 2008).

Kondrosit mensintesis metaloproteinase matriks (MPM) untuk memecah kolagen tipe dua dan aggrekan. MPM memiliki tempat kerja di matriks yang dikelilingi oleh kondrosit. Namun, pada fase awal OA, aktivitas serta efek dari MPM menyebar hingga ke bagian permukaan (superficial) dari kartilago (Felson, 2008).

Stimulasi dari sitokin terhadap cedera matriks adalah menstimulasi pergantian matriks, namun stimulaso IL-1 yang berlebih malah memicu proses degradasi matriks. TNF menginduksi kondrosit untuk mensintesis prostaglandin (PG), oksida nitrit (NO), dan protein lainnya yang memiliki efek terhadap sintesis dan degradasi matriks. TNF yang berlebihan mempercepat proses pembentukan tersebut. NO yang dihasilkan akan menghambat sintesis aggrekan dan meningkatkan proses pemecahan protein pada jaringan. Hal ini berlangsung pada proses awal timbulnya OA (Felson, 2008).

Kartilago memiliki metabolisme yang lamban, dengan pergantian matriks yang lambat dan keseimbangan yang teratur antara sintesis dengan degradasi. Namun, pada fase awal perkembangan OA kartilago sendi memiliki metabolisme yang sangat aktif (Felson, 2008). Pada proses timbulnya OA, kondrosit yang terstimulasi akan melepaskan aggrekan dan kolagen tipe dua yang tidak adekuat ke kartilago dan cairan sendi. Aggrekan pada kartilago akan sering habis serta jalinan-jalinan kolagen akan mudah mengendur (Felson, 2008). Kegagalan dari mekanisme pertahanan oleh komponen pertahanan sendi akan meningkatkan kemungkinan timbulnya OA pada sendi (Felson, 2008).



II.            Dietary faktor penyebab penyakit

Dari gambaran diatas dapat disimpulkan faktor penyebab penyakit osteotritis yakni :
a)      usia lebih dari 40 tahun
b)      jenis kelamin wanita lebih sering
c)      suku bangsa
d)     genetik
e)      kegemukan dan penyakit metabolik
f)       cedera sendi
g)      pekerjaan dan olahraga
h)      kelainan pertumbuhan
i)        kepadatan tulang.


III.            Mekanisme dietary faktor  dapat menyebabkan penyakit
C.1. Tulang rawan sendi
Stage I : Gangguan atau perubahan matriks kartilago. Berhubungan dengan peningkatan
konsentrasi air yang mungkin disebabkan gangguan mekanik, degradasi makromolekul matriks atau perubahan metabolisme kondrosit.Awalnya konsentrasi kolagen tipe II tidak berubah, tapi jaring-jaring kolagen dapat rusak dan konsentrasi aggrecan dan derajat agregasi proteoglikan menurun.
Stage II : Respon kondrosit terhadap gangguan atau perubahan matriks. Ketika kondrosit
mendeteksi gangguan atau perubahan matriks, kondrosit berespon dengan meningkatkan
sintesis dan degradasi matriks, serta berproliferasi.Respon ini dapat menggantikan jaringan 8
yang rusak, mempertahankan jaringan, atau meningkatkan volume kartilago.Respon ini dapat
berlangsung selama bertahun-tahun.
Stage III : Penurunan respon kondrosit. Kegagalan respon kondrosit untuk menggantikan atau
mempertahankan jaringan mengakibatkan kerusakan tulang rawan sendidisertai dan diperparah oleh penurunan respon kondrosit.Penyebab penurunan respon ini belum diketahui, namun diperkirakan akibat kerusakan mekanis pada jaringan, dengan kerusakan kondrosit dan downregulasi respon kondrosit terhadap sitokin anabolik.


Semoga artikel Osteoartritis bermanfaat bagi Anda. Jika kamu suka dengan artikel Osteoartritis ini, like dan bagikan ketemanmu.

Post a Comment

MemeCece - All Right Reserved.Powered By Blogger
Meme Cece, Template Edit by : Idho Zander