Saturday, May 25, 2013

Deficienci Zn (Zinc)

BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang Raulin pada tahun 1869 merupakan orang yang pertama kali menunjukkan bahwa zinc (Zn) merupakan unsur yang esensial dalam sistem biologi, melalui penelitian tentang pertumbuhan Aspergillus niger. Zinc juga ditunjukkan essensial pada tanaman tingkat tinggi pada tahun 1926. Pada tahun 1934 Todd, et al., melaporkan bahwa zinc essensial bagi tikus. Kemudian pada tahun 1955 suatu penyakit yang disebut parakeratosis pada babi akibat defisiensi zinc dilaporkan oleh Tucker dan Salmon. Selanjutnya keessensialan zinc bagi pertumbuhan ayam ditunjukkan oleh O’Dell, et al., sedangkan keessensialannya pada manusia ditunjukkan oleh Prasad pada tahun 1961 (Prasad, 1991). Kemajuan peranan zinc (Zn) dalam bidang biokimia dan biologi molekuler sangat femomena. Enzim yang pertama kali dikenali sebagai metalloenzim Zn adalah carbonic anhydrase seperti yang dilaporkan oleh Keilin dan Mann pada tahun 1940, dan pada tahun 1960 ada tiga enzim lain dikenal sebagai metalloenzim Zn, yaitu alcohol dehydrogenase, carboxypeptidase dan alkaline phosphatase. Kini metalloenzim Zn sudah diketahui pada semua kelas enzim, dan lebih dari 300 enzim yang berperan dalam strukturnya dan aksi katalitik dan regulatory (Prasad, 2003). Semenjak 1985 lebih dari 2000 faktor-faktor transkripsi yang tergantung Zn yang terlibat dalam ekspressi gen dari berbagai protein telah dikenali (Prasad, 2003). Pada sel-sel yang mengalami defisiensi Zn, pengikatan factor-faktor transkripsi yang tergantung pada DNA akan menurun. Hal ini kemungkinan menyebabkan penurunan ekspressi gen beberapa protein. Semenjak hampir setengah abad yang lampau, tampak bahwa defisiensi Zn pada manusia semakin prevalent (Prasad, 2003). Defisiensi Zn tersebut menyebar secara luas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di samping di Iran dan Mesir, defisiensi Zn sekarang juga dilaporkan terjadi di Turki, Portugal, Maroko, Yugoslavia, Jamaika, Kanada (Prasad, 1991), Zaire, Malawi, Nigeria, dan lain-lain (ACC/SCN, 1997). Laporan-laporan tersebut umumnya menggambarkan tentang kasus-kasus yang sudah jelas terlihat daripada insiden defisiensi Zn aktual di seluruh dunia yang jumlahnya mungkin lebih banyak. Defisiensi Zn akan menjadi prevalent di negara-negara lain dimana penduduknya mengkonsumsi protein nabati dan pangan yang tinggi kandungan serat dan fitatnya, seperti serealia, kacang-kacangan (Prasad, 1985a; Prasad, 1991). Defisiensi Zn suboptimal juga sudah diakui terjadi di Amerika Serikat, baik pada bayi (Walravens dan Hambidge, 1976) maupun anak-anak (Hambidge, et al, 1976). Sebuah studi di Denver pada tahun 1972 mengidentifikasi sejumlah anak dari keluarga berpendapatan menengah dan tinggi yang kandungan Zn pada rambutnya menurun, dan mengalami hambatan pertumbuhan (Prasad, 1985a). Defisiensi Zn menyebar luas pada wanita di Afrika. Studi di Mesir, Nigeria, dan Zaire semuanya melaporkan status Zn yang rendah pada wanita hamil. Di Malawi, defisiensi Zn pada wanita hamil, yang dikonfirmasikan dengan indikator biokimia, dihubungkan dengan intik Zn yang bioavailabilitasnya rendah, siklus reproduksi yang cepat, dan infeksi malaria. Suplementasi Zn telah mengkonfirmasikan bahwa defisiensi Zn selama hamil menyebabkan pertumbuhan janin yang buruk, komplikasi kelahiran, dan meningkatnya mortalitas pada ibu dan bayinya (ACC/SCN, 1997). Berdasarkan hasil analisis kadar Zn serum/plasma menunjukkan bahwa di Amerika Serikat prevalensi defisiensi Zn pada anak sekolah adalah 1,3 persen pada anak laki-laki dan 1,0 persen pada anak perempuan (Pilch dan Senti, 1986). Di Yugoslavia prevalensi defisiensi Zn adalah 25,8 persen (Buzina, et al, 1980). Prevalensi yang jauh lebih tinggi diungkapkan di Iran bagian Selatan oleh Ronaghy, et al, (1974), yaitu 71,4 persen. Mengingat sulitnya menetapkan defisiensi Zn berdasarkan kadar Zn serum/plasma, maka sulit didapatkan data prevalensi defisiensi Zn. Salah satu cara mengetahui defisiensi Zn di suatu daerah yang sekarang sering digunakan adalah dengan melihat respon terhadap pemberian Zn. Hampir semua penelitian yang dilakukan diberbagai belahan dunia menunjukkan bahwa kelompok rawan gizi pada umumnya berespon terhadap suplementasi Zn. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok penduduk tersebut menderita defisiensi gizi. Ini berarti bahwa defisiensi Zn hampir dipastikan terjadi di daerah-daerah tersebut, terutama di negara-negara berkembang. Saat ini diduga sekitar 2 juta penduduk di Negara berkembang mengalami defisiensi Zn dengan berbagai tingkat keparahannya (Prasad, 2003). Berdasarkan data intik ketidakcukupan Zn makanan, diduga sepertima penduduk dunia mengalami kekurangan Zn makanan (Brown, 2004). Di Indonesia ada indikasi bahwa defisiensi Zn menyebar secara luas di masyarakat. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Hadi Riyadi di Pedesaan Bogor menunjukkan bahwa prevalensi defisiensi Zn pada anak baduta sebesar 20,1 persen (Riyadi, 2002) pada anak sekolah dasar sebesar 27,5 persen Riyadi, 1992), prevalensi pada remaja sebesar 44,3 persen (Riyadi, 1995). Berdasarkan indikator kadar zinc serum, prevalensi defisiensi zinc pada bayi di Bogor sebesar 17 persen (Dikhuizen, et. al., 2001). Hasil penelitian Puslitbang Gizi dan Direktorat Gizi (2006) di 7 provinsi menunjukkan prevalensi defisiensi Zn ( kadar Zn serum < 70 µg/dl) berkisar 7,96 sampai 44,74 persen. Beberapa pustaka menunjukkan bahwa apabila di suatu masyarakat prevalensi defisiensi Fe tinggi, maka biasanya masyarakatnya juga banyak yang mengalami defisiensi Zn. Dengan demikian, maka diduga masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia banyak yang mengalami defisiensi Zn. II. Tujuan dari makalah ini Berdasarkan latar belakang tersebut makalah ini disusun untuk mendeskripsikan: Tujuan Umum  Mengetahui tentang penyakit  Mengetahui bakteri penyakit  Cara Penularan Penyakit  Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Tujuan Khusus  Memenuhi tugas mata kulia epidemologi  Pendapat tentang pencegahan penyakit  Memberi taukan tentang bahaya penyakit  Upaya pencegahan penyakit III. Rumusan makalah Dalam upaya menekan kejadian defisiensi Zn sebagai mineral mikro yang dibutuhkan oleh tubuh khususnya maka perlu adanya ;  Perlunya mengetahui Zn,fungsinya bagi tubuh dan akibat kekuranganya  Mengetahui konsep dasar epidemologinya  Pola pencegahan penyakit. BAB II PEMBAHASAN A. Pengrtian Zn Dalam ilmu gizi dikenal dua jenis mineral, yaitu mineral utama (makro mineral) dan elemen renik (mikro mineral). Mineral utama sudah banyak dibicarakan, baik sifat maupun pengaruhnya terhadap kesehatan. Sedangkan elemen renik, khususnya pengaruh seng (Zn) terhadap kesehatan, baru tahun-tahun terakhir ini mulai dibicarakan. Seng adalah salah satu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh dan dikelompokkan dalam golongan trace mineral yang merupakan suplemen mineral terlengkap yang mengandung 76 unsur mineral (makro & mikro). Riset ilmu sudah membuktikan bahwa Seng adalah unsur dalam tubuh berjumlah kecil tetapi sangat dibutuhkan. Seng adalah pembentuk ratusan jenis enzim tubuh dan pemberi vitalitas serta berpatisipasi dalam proses penyatuan protein dan nucleid acid, sehingga berpengaruh langsung terhadap pembelahan, pertumbuhan dan regenerasi sel. Banyaknya seng yang dibutuhkan setiap orangpun berbeda-beda, tergantung pada faktor: usia, jenis kelamin, status fisiologisnya (banyaknya seng yang harus diabsorbsi untuk menggantikan pengeluaran endogen, pembentukan jaringan, pertumbuhan, dan sekresi air susu), serta karakteristik diet. Besarnya masukan seng yang dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan orang sehat (angka kecukupan seng) selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut; Kelompok Umur Kecukupan Zn Kelompok Umur Kecukupan Zn Anak : Wanita : 0-6 bln 1,3 10-12 thn 12,6 7-11 bln 7,5 13-15 thn 15,4 1-3 thn 8,2 16-18 thn 14,0 4-6 thn 9,7 19-29 thn 9,3 7-9 thn 11,2 30-49 thn 9,8 Pria : 50-64 thn 9,8 10-12 thn 14 >65 thn 9,8 13-15 thn 17,4 Hamil:(tambahan) 16-18 thn 17 Trimester I 1,7 19-29 thn 12,1 Trimester II 4,2 30-49 thn 13,4 Trimester III 9 50-64 thn 13,4 Menyusui : >65 thn 13,4 6 bulan pertama 4,6 6 bulan kedua 4,6 Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2004) Untuk memenuhi kecukupan seng, dibutuhkan pengaturan diet yang adekuat, selain itu juga harus memperhitungkan bioavailabilitas bahan makanan yang mengandung seng, yaitu efek dari setiap proses, baik fisik, kimia, maupun fisiologis, yang berpengaruh pada jumlah seng yang diserap dari bahan makanan hingga bentuk biologis yang aktif untuk dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan fungsional. Komponen bahan makanan juga berperan penting pada bioavailabilitas seng karena adanya interaksi antara seng dan komponen lainnya. Beberapa zat (asam sitrat, asam palmitat, dan asam pikolinat) dapat meningkatkan absorbsi seng. Sedangkan fitat dan serat menghambat. B. Fungsi Zn Zinc penting untuk pertumbuhan dan replikasi sel, kematangan organ seks, fertilitas dan reproduksi, mencegah buta senja, imunitas, daya kecap dan selera makan. Akibat paling hebat dari defisiensi Zinc adalah gangguan pertumbuhan. (Wahlqvist, 2001) Zinc membantu mengeluarkan karbon dioksida dari sel ke paru-paru pada proses ekshalasi. Juga penting untuk kalsifikasi tulang dan untuk perkembangan dan berfungsinya organ reproduksi. Zinc berperanan penting dalam sistem enzim yang terlibat dalam proses cerna dan pernafasan. Hormon insulin yang berguna untuk mengatur kadar gula darah memerlukan Zinc agar dapat berfungsi baik. Zinc bekerja sama dengan vitamin A dalam fungsi penglihatan dan reproduksi. Jika jumlah Zinc dalam tubuh berkurang, daya adaptasi mata untuk melihat dalam gelap. Kekurangan zinc juga dapat mengakibatkan beberapa gangguan kulit. Zinc juga berguna untuk perbaikan luka bakar dan luka. Zinc berperan dalam fungsi kekebalan. Kelenjar timus yang berperan membentuk hormon untuk fungsi kekebalan, memerlukan zinc. Sel Natural Killer yang berfungsi sebagai sel pembunuh sel-sel kanker dan infeksi virus juga memerlukan zinc. Otak dan sistem syaraf memakai zinc untuk hampir setiap reaksi enzimnya. C. Tanda dan gejala dari Deficiensi Zn Defisiensi zinc hampir selalu disebabkan rendahnya kandungan zinc dalam makanan, konsumsi yang terlalu tergantung pada tepung dan pemakai alkohol. Wanita hamil dan menyusui rentan terhadap kekurangan zinc. Usia lanjut juga mudah menderita defisiensi, terutama jika mengkonsumsi makanan rendah zinc dan jika ada gangguan absorpsi . Defisiensi Zn terkadang diderita terutama golongan rawan gizi yaitu anak-anak , ibu hamil , ibu laktasi , dan lansia tanda dari defisiensi adalah gangguan pertumbuhan dan kematangan seksual pada anak pria seperti gangguan fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolisme , timbulnya jerawat ,katarak , epilepsi ,anoreksia, psoriasis , aging ,kanker prostat dan gangguan imunitas seluler yang berdampak pada rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi .jika terjadi defisiensi kronis dapat menyebabkan gangguan pusat sistem syaraf dan fungsi otak yang manifestasinya antara lain dementia , despresi mental yang berakhir dengan schizoprenia Kebutuhan zinc meningkat pada fase penyembuhan dan perbaikan luka. Anak yang menderita alergi membutuhkan lebih banyak zinc dibanding anak normal. Kelompok lain yang gampang kekurangan defisiensi adalah penderita diabetes, penyakit kronis hati, penyakit ginjal, anemia sickle cell,, gangguan absorpsi, dan penderita premenstrual syndrome. Orang yang mengkonsumsi obat-obat estrogen, kortikosteroid, anti-epilepsi atau diuretik juga mudah menderita defisiensi zinc. Pica, suatu kondisi pada anak dan kadang-kadang orang dewasa yang suka menelan bahan yang tidak dianggap makanan seperti deterjen, tanah, kotoran dan cat diperkirakan berhubungan dengan keadaan defisiensi zinc, terutama pada anak yang berumur 1 hingga 3 tahun. Pica juga berhubungan dengan defisiensi zat besi dan kalsium (Bergner, 1997) Defisiensi zinc ditandai dengan kehilangan nafsu makan, pada anak pertumbuhan terhambat, pada anak laki-laki kelenjar kelamin mengecil, kehilangan daya kecap dan rambut yang berwarna suram. Pada defisiensi zinc terdapat gangguan kulit berupa dermatitis, jerawat dan psoriasis. Masalah lain yang berhubungan dengan defisiensi zinc adalah infertilitas, ulkus mulut, retardasi pertumbuhan dan gangguan tidur. Bintik putih pada kuku kadang dihubungkan dengan kekurangan zinc. Hal ini disebabkan oleh karena gangguan perbaikan luka pada keadaan zinc, sedangkan bintik putih disebabkan trauma pada permukaan kuku (Bergner, 1997). Defisiensi akan menyebabkan berkurangnya jumlah antibodi dan limfosit yang memudahkan terjadinya infeksi. Kelenjar prostat memerlukan zinc untuk mencegah bekerjanya enzim 5-alfa reduktase yang mengubah testoteron menjadi dihidrotestoteron. Penumpukan dihidrotestoteron pada prostat terjadi pada defisiensi zinc, yang menyebabkan kelenjar ini membengkak, menghalangi keluarnya urin pada orang tua – keadaan ini disebut pembengkakan jinak pada prostat atau benign prostate hypertrophy (BPH). Adapun gejala klinis defisiensi Zn : Defisiensi Seng Ringan ( 40 - 60 ug/dl) Defisiensi Seng Berat (< 40 ug/dl) Oligospermi Alat-alat kelamin mengecil Dermatitis Infeksi Pertumbuhan terhambat Diare Penyembuhan luka terhambat Perubahan neurologis Gangguan adaptasi gelap Kematian Perubahan emosi BAB III KONSEP DASAR EPIDEMOLOGI A. Host – agent – enviroment Dalam pandangan epidemologi klasik terkenal dengan segitiga epidemologi yang digunakan untuk menganalisis terjadinya penyakit segitiga ini terdiri atas penjamu (host) , agen (agent) , dan lingkungan (environment) . B. Pola timbulnya penyakit dan penyebaran penyakit Kejadian timbulnya penyakit dalam pandangan epidemologi modern sebagai pengaruh yang bersifat muitikausal yaitu sebagai interaksi antar masing-masing faktor tersebut.contoh dalam deficiensi Zn adalah 1. Kejadian penyakit : variable tempat dan waktu  Keadaan penduduk :penduduk yang terlalu padat  Sumber makanan (ketersediaan pangan) : keterbatasan jumlah pangan  Keadaan pelayanan kesehatan : jauh dari pusat kesehatan dan jangkauan dari tenaga kesehatan.  Jangka waktu orang tersebut terkena defisienci Zn : lama karena biasanya kekurangan Zn itu berkesimanbungan dengan berkuranganya atau kekuranga zat gizi lain. Jadi bisa dibilang lama waktu orang tersebut terkena deficiensi Zn tergantung pada besaran maslah deficiensi zat gizi lain.  Sosial dan ekonomi : adanya urbanisani mungkin dapat mejadi faktor penyebab tetapi tidak terlalu dominan,dan daya beli (pendapatan ekomoni) ini sering jadi salah satu alasan dikarenakan masyarakat yang bersangkutan tidak bisa atau tidak dapat membeli bahan makanan tersebut. 2. Faktor resiko : variable orang  Umur : pria umur 13-17th , wanita umur 13-15th dan ibu hamil. Faktor tersebut dikarena asupan yang dibutuhkan banyak diumur sekian selain untuk pertumbuhan,juga konsumsi zat gizi mikro Zn kurang dan diet yang salah.  Jenis kelamin : mayoritas semua umur apabila mereka kurang mengkonsumsi sumber makan penghasil Zn(seng) akan tetatpi beberapa penelitian menyatakan bahwa deficiensi Zn ini lebih banyak pada anak-anak dari faktor tumbuh kembang , ibu hamil yang kekurangan intake Zn, ibu laktasi karena faktor dari mikro nutrien lain , dan lansia faktor penyerapan asumsi bahan makan dalam tubuhnya.  Status perkawinan : menyangkut kehamilan dikarenakan banyak ibu hamil yang memiliki status gizi kekurangan Fe (besi) maka berdampak dengan intake kekurangan zat gizi Zn (seng) itu menurut beberapa penelitian. 3. Faktor preventif : tingkat pencegahan penyakit defisien Zn ada 4 yaitu , secara premodial preventif , primary preventif ,secundary preventif , tertiary preventif . C. Jejaring sebab akibat Penyebab penyakit ada banyak , tetapi penyebab penyakit Deficiensi Zn ini pasti memiliki sebabnya dan juga penyebab. D. Pencegahan penyakit Tahap pencegahan penyakit ada 4 hal yakni, 1) Premodial preventif : Dimana proses pada tahap ini adalah menghindari terbentuknya pola hidup yang berkontribusi meningkatkan resiko penyakit , contoh pada tahap ini apabila diaplikasikan pada deficienci Zn adalah mengurangi konsumsi dari baham makanan yang banyak mengandung asam itat dan serat yang tinggi dikarenakan fitat dan serat yang terlalu tinggi akan menhambat abpsorsi zay gizi Zn dalam tubuh ini akan riskan apabila dia sudah terkena deficiensi Zn.contoh bahan makan yang mengandung fitata:teh,koipi,kacang-kacangan. dll 2) Primary preventif : Maksud pada tahap ini mengurangi insiden penyakit dangan cara mengndalikan penyebab dan faktor resikonya contoh hal pada khasusu deficiensi gizi mikro Zn ini , pada peran promosi kesehatan bisa diadakanya penyuluhan tentang pentingnya zat gizi mikro dan bila perlu diadakan penyuluhan/edukasi tentang fortifikasi makanan yang mengandung Zn agar supaya masyarakat sudah menderita kekurangan Zn lebih muda untuk memilih makanan mana saja yang mengandung Zn tinggi untuk mengejar angka kecukupan. 3) Secundary preventif : Menghentikan proses penyakit lebih lanjut dan mencegah komplikasinya contoh pada kekurangan Zn ini dilakukan diagnosa dini seperti pemeriksaan lab.untuk kadar Zn pada bumil ,anak-anak yg kehilangan nafsu makannya dan remaja yang suka diet. Pengobatanya bisa diberikan makanan yang sudah diforktifikasi Zn 4) Tertiary preventif : Menurunkan dan memperkecil penderita serta penyesuaian terhadap kondisi yang tidak dapat diobati lagi. Contoh pada khasusZn ini apabila yang terkena defisiensi Zn ini adalah orang yang dengan status gizi kurang atau malnutrisi sudah pasti masalah yang diperbaiki bukan hannya pada zat gizi mikronya saja tetapi juga makro , bisa ditunjang dengan konsumsi beberapa makanan yang telah difortifikasi atau diberikan formula khusus. Rehabilitasinya , merubah gaya hidupnya yang dapat/bisa menimbulkan ketidak seimbangan zat gizi .


Semoga artikel Deficienci Zn (Zinc) bermanfaat bagi Anda. Jika kamu suka dengan artikel Deficienci Zn (Zinc) ini, like dan bagikan ketemanmu.

Post a Comment

MemeCece - All Right Reserved.Powered By Blogger
Meme Cece, Template Edit by : Idho Zander